Book and Comic,  Feature

Mari Membaca: Almond by Won-Pyung Sohn – Honest Review

Akhirnya setelah sekian lama, saya berhasil menamatkan sebuah novel. Yang kali ini mau saya review yaitu young-adult literature berjudul Almond, karya debut dari penulis perempuan Won-Pyung Sohn.

Buku ini sebenarnya mendadak jadi most sought setelah dibaca oleh member BTS: RM dan Suga di variety show mereka In The Soop. Tapi sebenarnya di Korsel sendiri Almond pernah memenangkan award Changbi Prize for Young Adult Fiction di tahun 2016.

Almond berputar di kisah hidup Yunjae, seorang remaja yang karena kelainan di otaknya menjadi tidak bisa merasakan emosi. Yunjae tidak merasakan sedih, takut, senang, dan emosi lainnya sehingga seringkali disebut monster. Yunjae kehilangan nenek dan ibunya dalam cara yang sangat tragis, dan dalam perjalanannya bertemu dengan Gon, anak baru di sekolahnya yang sangat emosional dan meledak-ledak.

The Emissary meets The Curious Incident of the Dog in the Nighttime in this poignant and triumphant story about how love, friendship, and persistence can change a life forever.
This story is, in short, about a monster meeting another monster. 
One of the monsters is me.

Almond – Google Play Books

Saya membaca versi bahasa Inggris dari Almond. Kualitas terjemahannya sangat bagus, sampai-sampai intonasi dan kecepatan membaca saya pun mengikuti gaya bicara para tokoh di dalam buku. Tentu saja ini disesuaikan dengan bayangan saya atas karakter mereka tentunya.

Penceritaan dalam Almond bergerak maju. Tidak banyak flashback kecuali saat Yunjae bercerita tentang masa lalu ibunya dan masa kecilnya. Ceritanya sangat mudah diikuti dan bahkan saya yang karena keterbatasan waktu cuma bisa membaca 5 chapter saja sehari tidak mengalami masalah karena lupa cerita yang sudah saya baca di chapter sebelumnya.

Chapter di Almond sangat pendek, hanya berkisar 2-4 halaman saja. Bahkan blog ini sepertinya 2-3x lebih panjang daripada panjang satu chapter di Almond.

Tapi yang paling menarik bagi saya adalah gaya penceritaan yang sangat sesuai dengan emosi tokoh yang diceritakan. Cerita terasa datar dan mengalir lurus pada saat berfokus di Yunjae, terasa melonjak-lonjak pada saat berfokus di Gon, terasa keras dan sinis pada saat berfokus di neneknya Yunjae, dan terus berubah-tubah tergantung cerita saat itu objeknya siapa.

Saya memang tidak banyak membaca buku, tapi perasaan ini mirip yang saya rasakan waktu membaca Harry Potter. Mungkin karena itu juga saya bisa menamatkan semua buku Harry Potter.

Untuk cerita sendiri sebenarnya menurut saya cerita di dalam Almond ini sederhana dan tragis. Tapi karena diceritakan dari sudut pandang Yunjae yang tanpa emosi, cerita jadi tidak mengharu biru, justru agak menyeramkan karena kita jadi bisa menyelami pemikiran Yunjae yang juga mempertanyakan kenapa dia tidak merasakan apa yang harusnya dirasakan.

Cerita yang sederhana nggak berarti membosankan, karena justru saya penasaran banget sama akhir ceritanya. Kalau bukan karena sedang berusaha mengubah habit dan membatasi diri dari melakukan satu hal secara excessive, saya mungkin bakal menghabiskan sehari dua hari untuk marathon membaca buku ini sampai langsung habis.

Justru membatasi diri membaca hanya 5 chapter dalam sehari, sungguh berat rasanya harus mengakhiri membaca dimana besoknya saya menunggu-nunggu banget waktu membaca supaya bisa lanjut membaca perjalanan hidup Yunjae.

Almond saya rekomendasikan buat manteman yang menyukai bacaan remaja yang ringan tapi berbobot. Dengan sempilan kritik sosial disana-sini, kita diajak untuk mempertanyakan diri sendiri tentang bagaimana emosi kita membuat kita memandang orang lain dan dunia di sekitar kita.

Dapatkan Almond di toko buku terdekat atau di Google Playbook

Manteman, terima kasih ya sudah membaca blog kami. Buat manteman yang menyempatkan buat komen, kami juga akan blogwalking ke blog manteman. Follow juga instagram kami @inspirazzle2.

2 Comments

  • fanny_dcatqueen

    Menarik. Aku coba cari ah buku nya. Tokoh tanpa emosi ini jd ingetin salah satu karakter dalam drakor yg kemarin sempet trending :D.

    Ga kebayang juga gimana rasanya bisa ga fa emosi ya mba. Mau nangis ga tau, marah, sedih, gembira -_-. Bener2 penasaran aku jadinya…

    • Sissy

      It’s okay to not be okay ya Kak? Salah satu drakor favorit aku. Hahaha. Bedanya kalau Yunjae ini dia nggak bisa merasakan emosi karena dia ada masalah di otaknya, bukan karena pola asuh atau tekanan sosial seperti di drakor itu. Selamat membaca Kak.