December3
Orang yang mengenal aku dengan cukup baik, pasti tau bahwa aku bukan orang yang bisa percaya sesuatu yang dikatakan orang lain. Aku nggak percaya apa yang dikatakan orang-orang tua, apa yang dikatakan oleh pemuka agama apalagi yang dikatakan teman seumuran, apapun, tanpa ada bukti bahwa yang dikatakan itu memang benar adanya. Salah satu yang aku paling nggak percaya adalah kalimat “Anak bawa rejeki” atau (yang lebih parah lagi) “Banyak anak banyak rejeki”.
Hmm, Actually I believed it once, until that event. Suatu hari di ruang ganti pakaian waktu SMA, aku ngeliat bekas sundutan rokok di bahu dan perut seorang teman. Waktu aku tanya kenapa Bapaknya melakukan itu, dia menjawab “Abis gue bisanya cuma ngabisin duit bokap”, otomatis aku bilang “Kok bokap lu gitu sih?! Anak khan bawa rejeki”. Yang terjadi adalah dia tertawa, lalu dengan kasarnya berkata “Lu bego banget sih. Mana ada anak bawa rejeki? Yang ada anak tuh ngabisin duit doank! Apalagi yang nggak pinter kaya’ gue, harus kursus mahal, belom tentu bisa kuliah di negeri, dapet kerja juga mungkin susah.” Pada saat itulah aku berpikir, oh, ternyata kalimat itu nggak bener ya?
Makin dewasa, aku makin melihat kenyataannya. Dan makin nggak percaya kalimat itu benar adanya. Malah ditambah ketidakpercayaan yang lain, kalimat “Menikah itu bawa rejeki”. Lucunya, sekarang aku dan Ncus dikelilingi orang-orang yang terus-menerus mendengung-dengungkan kalimat-kalimat itu. Mau nggak mau, tiap kali ada yang mengucapkan kalimat itu, aku jadi berpikir “Oh God, lu bener-bener nggak pernah ngitung duit sebelum lu kawin dan punya anak ya?!” Ups, sorry friends. But that’s what I feel.
Pertama, menikah itu bawa rejeki. Ya iyalah, secara setelah menikah ada tambahan penghasilan dari gaji pasangan kita. Plus, ada pengurangan pengeluaran. Misalnya, awalnya makan diluar sekarang masak sendiri, awalnya betulin mobil di bengkel bayar sendiri sekarang bayar berdua. Otomatis, kerasa ada rejeki tambahan khan? padahal sih gada perubahan.
Kedua, anak bawa rejeki. Nah, yang ini rada mistis sih. Emang banyak orang yang penghasilannya melonjak ketika sang buah hati lahir. Eit, tunggu dulu, tau khan kalimat Setiap orang punya rejekinya masing-masing? Nah, kalo kalimat yang ini aku percaya. Buat aku penghasilan yang melonjak itu adalah penghasilan si Anak, secara nggak mungkin khan bayi menghasilkan 3 juta perbulan? Nah, penghasilan si anak itulah yang diterima oleh orang tua. Kalau diitung-itung, misalnya sebelom anak lahir gaji ortu 3 juta, pas anak lahir ortu naik pangkat, jadilah tiap bulan punya 5 juta. Tapi biaya perawatan, makan dan tabungan pendidikan untuk anak juga abis 2 juta. Lah, jadi tetep 3 juta khan?! Nggak percaya? Gimana dengan cerita berikut, saat anak pengen motor, tiba-tiba dapet rejeki yang cuma cukup buat beli motor. Saat anak masuk universitas, tiba-tiba dapet rejeki yang cuma cukup buat bayar uang kuliah. Yang lebih mencengangkan lagi, kalau tuh anak dididik dengan benar, tepat pada saat ortu pensiun, anak itu sudah jadi manajer dan siap dibebanin ortu-nya yang rejeki uang pensiunnya (karena inflasi, depresi ekonomi, dll) udah nggak cukup buat hidup enak. hehehe…coincidence?
Tapi buat aku sih, mungkin Indonesia masih membutuhkan beberapa orang yang percaya kalimat tersebut. Perasaan sih, kalau bukan karena kalimat itu, Indonesia sudah seperti Perancis atau Jepang yang pertumbuhan penduduknya mendekati 0% alias nggak ada bayi yang lahir. This is one reason kenapa aku bener-bener nggak peduli di masa depan akan punya anak atau nggak. Toh kalaupun nggak dikasih anak sama Tuhan, masih ada anak-anak hasil kepercayaan banyak anak banyak rejeki yang siap diadopsi diluar sana XD