inspirazzle

world is a dazzling place

Pas Foto di Jakarta

December30

First of all, Happy holiday everybody ^^ Thanks to my luvly boyfriend, Aku juga dikasih holiday sampe tanggal 4 Januari…Horeee. Dalam rangka menghabiskan liburan adalah pulang ke Jakarta, dimana tersedia makan, belanja dan cuci baju gratis dari ortu, hehehe. Dan so pasti jalan-jalan ke mal-mal di Jakarta donk.

Tapi ternyata bahkan Jakarta yang minus macet (orang Jakarta pada ke Bandung semua ya?) tetep aja ga menyenangkan buat aku. Dikarenakan oleh banyaknya pas foto yang bertebaran diseluruh jalan umum di Jakarta. Yang aku maksud bukan pas foto ukuran 3×4 ala rapor sekolah kita dulu, tapi pas foto ukuran 2×3meter bergambar wajah bapak atau ibu caleg.

Sebagai seorang desainer (ciee!!) jujur aku merasa terganggu banget sama pas foto segede bendera itu. Desainnya tuh nggak banget. Pas foto tokoh caleg yang backgroundnya di crop, ditambah lambang dan slogan partai, ada juga yang dibikin seakan tokoh itu sedang berfoto dengan calon presiden dari partai itu. Jijai bow! Nggak ketinggalan warna yang nge-jreng, boros jenis fonts plus di-bold semua ^^; Tobat

Tapi sebenernya, terselip sedikit kekaguman juga sih. Siapa ya yang menetapkan sistem desain alat kampanye caleg kaya’ begitu. Maksudnya, ada puluhan partai dan ada ratusan bahkan ribuan caleg, dan semuanya pake desain yang sistemnya sama persis. Hebat khan?! Sementara gw kuliah 4 tahun aja belom bisa bikin sistem desain yang diikutin 10 orang aja :-/ hehehe

by sissy |posted under disgustedly interesting | Tags: ,
| No Comments »

Banyak Rejeki Atau Pengalihan Rejeki?

December3

Orang yang mengenal aku dengan cukup baik, pasti tau bahwa aku bukan orang yang bisa percaya sesuatu yang dikatakan orang lain. Aku nggak percaya apa yang dikatakan orang-orang tua, apa yang dikatakan oleh pemuka agama apalagi yang dikatakan teman seumuran, apapun, tanpa ada bukti bahwa yang dikatakan itu memang benar adanya. Salah satu yang aku paling nggak percaya adalah kalimat “Anak bawa rejeki” atau (yang lebih parah lagi) “Banyak anak banyak rejeki”.

Hmm, Actually I believed it once, until that event. Suatu hari di ruang ganti pakaian waktu SMA, aku ngeliat bekas sundutan rokok di bahu dan perut seorang teman. Waktu aku tanya kenapa Bapaknya melakukan itu, dia menjawab “Abis gue bisanya cuma ngabisin duit bokap”, otomatis aku bilang “Kok bokap lu gitu sih?! Anak khan bawa rejeki”. Yang terjadi adalah dia tertawa, lalu dengan kasarnya berkata “Lu bego banget sih. Mana ada anak bawa rejeki? Yang ada anak tuh ngabisin duit doank! Apalagi yang nggak pinter kaya’ gue, harus kursus mahal, belom tentu bisa kuliah di negeri, dapet kerja juga mungkin susah.” Pada saat itulah aku berpikir, oh, ternyata kalimat itu nggak bener ya?

Makin dewasa, aku makin melihat kenyataannya. Dan makin nggak percaya kalimat itu benar adanya. Malah ditambah ketidakpercayaan yang lain, kalimat “Menikah itu bawa rejeki”. Lucunya, sekarang aku dan Ncus dikelilingi orang-orang yang terus-menerus mendengung-dengungkan kalimat-kalimat itu. Mau nggak mau, tiap kali ada yang mengucapkan kalimat itu, aku jadi berpikir “Oh God, lu bener-bener nggak pernah ngitung duit sebelum lu kawin dan punya anak ya?!” Ups, sorry friends. But that’s what I feel.

Pertama, menikah itu bawa rejeki. Ya iyalah, secara setelah menikah ada tambahan penghasilan dari gaji pasangan kita. Plus, ada pengurangan pengeluaran. Misalnya, awalnya makan diluar sekarang masak sendiri, awalnya betulin mobil di bengkel bayar sendiri sekarang bayar berdua. Otomatis, kerasa ada rejeki tambahan khan? padahal sih gada perubahan. 

Kedua, anak bawa rejeki. Nah, yang ini rada mistis sih. Emang banyak orang yang penghasilannya melonjak ketika sang buah hati lahir. Eit, tunggu dulu, tau khan kalimat Setiap orang punya rejekinya masing-masing? Nah, kalo kalimat yang ini aku percaya. Buat aku penghasilan yang melonjak itu adalah penghasilan si Anak, secara nggak mungkin khan bayi menghasilkan 3 juta perbulan? Nah, penghasilan si anak itulah yang diterima oleh orang tua. Kalau diitung-itung, misalnya sebelom anak lahir gaji ortu 3 juta, pas anak lahir ortu naik pangkat, jadilah tiap bulan punya 5 juta. Tapi biaya perawatan, makan dan tabungan pendidikan untuk anak juga abis 2 juta. Lah, jadi tetep 3 juta khan?! Nggak percaya? Gimana dengan cerita berikut, saat anak pengen motor, tiba-tiba dapet rejeki yang cuma cukup buat beli motor. Saat anak masuk universitas, tiba-tiba dapet rejeki yang cuma cukup buat bayar uang kuliah. Yang lebih mencengangkan lagi, kalau tuh anak dididik dengan benar, tepat pada saat ortu pensiun, anak itu sudah jadi manajer dan siap dibebanin ortu-nya yang rejeki uang pensiunnya (karena inflasi, depresi ekonomi, dll) udah nggak cukup buat hidup enak. hehehe…coincidence?

Tapi buat aku sih, mungkin Indonesia masih membutuhkan beberapa orang yang percaya kalimat tersebut. Perasaan sih, kalau bukan karena kalimat itu, Indonesia sudah seperti Perancis atau Jepang yang pertumbuhan penduduknya mendekati 0% alias nggak ada bayi yang lahir.  This is one reason kenapa aku bener-bener nggak peduli di masa depan akan punya anak atau nggak. Toh kalaupun nggak dikasih anak sama Tuhan, masih ada anak-anak hasil kepercayaan banyak anak banyak rejeki yang siap diadopsi diluar sana XD

by sissy |posted under thoughtcynism | Tags: ,
| 4 Comments »

Pink Wedding, Hell no!!

November25

Bisa dibilang aku sangat beruntung, karena tidak ikut ke pesta pernikahan pink-pink bersama Sissy. Dikarenakan, aku datang ke acara Pesta Blogger 2008. Kalau aku ikut kesana, pasti akan keluar dalam waktu 5 menit kemudian.

Pendapatku mengenai pernikahan berwarna pink, sampai ke bagian terkecilnya juga berwarna pink merupakan sebuah pernikahan yang fenomenal. Seharusnya mereka mengontak MURI, Guiness book of record, atau Ripley.

Dari cerita Sissy, sayangnya tidak ada foto untuk mendukung ceritanya. Diyakinkan bahwa sang mempelai wanitalah sebagai wedding planner-nya. Sang mempelai wanita ini kemungkinan mempunyai sifat yang tidak mau kalah dan manja. Sedangkan orang tuanya mempunyai sifat, asal anak senang. Dan, mempelai pria di sini dalam keadaan posisi paling lemah, karena bagi kebanyakan pernikahan di Indonesia pihak perempuanlah yang menjadi penyelanggara.

Tidak banyak yang aku bisa curahkan, tapi takjub campur ngeri ada pesta all pink. Untung gak ada Pink Panther di pesta tersebut sebagai maskotnya, ya? Kalau ada pasti keren tuh, trus yang menjadi wedding singer-nya itu adalah PINK! Woohoo! Baru deh komplit, ALL PINK ALL THE WAY PINK!!

by Kuswanto |posted under disgustedly interesting | Tags:
| 4 Comments »

Korban Pengantin Perempuan?!

November23

Yesterday…. (bukan, bukan lagunya The Beatles) nemenin ortu pergi ke pesta pernikahan anaknya temennya nyokap. Pilihan yang sulit sebenarnya, antara makan gratis atau ikutan pesta blog (nemenin Ncus sebenarnya) di Jakarta. Tapi berhubung kalo sama ortu suka ada tambahan blanjablanji gratis, ya ortulah pilihannya :P

Pestanya sih biasa aja. Standar pernikahan Indonesia deh. Yang ga biasa, nuansa pestanya ALL PINK! terasa sejak pintu masuk, semua panitia dan anggota keluarga, termasuk yang cowo’ juga, bajunya warna pink. Bahkan kain untuk bawahannya warnanya pink pucat dengan motif warna pink dan merah tua. Berjalan ke pelaminan untuk salaman, pelaminannya warnanya merah tua, yang diisi enam orang berjejer dengan pakaian plus kain warna pink. Yes, you right. Termasuk juga pengantin laki-laki dan ayah dari pengantin perempuan dan pengantin laki-laki, all dressed in pink!

Ternyata, nggak berhenti sampai disitu. Kebanyakan bunga yang digunakan untuk dekorasinya warna pink. Dan semua meja makanan ditutup taplak warna pink. Omigod. Terasa seperti di pesta valentine anak usia ABG :D Eit, kelewat, undangannya juga pink lho!

Yakin. sepertinya ini wedding yang dimana pengantin perempuan adalah pihak yang bertugas mengatur, memilih dan menentukan segala detail pestanya, ditambah sepertinya dia sama sekali nggak cari referensi mengenai bagaimana seharusnya resepsi pernikahan itu didesain. Sedangkan pengantin laki-laki adalah pihak yang (hanya bertugas) membayar semuanya. Atau mau lebih parah, pengantin perempuan adalah pihak yang bertugas mengatur, memilih, menentukan dan membayar semuanya. Nggak aneh kalo dia jadi semena-mena. Tambahan dari bokap, orang tua pengantin adalah pihak yang asal anak senang. Nggak percaya? Coba deh dipikir pake sedikit aja logika. Sepertinya, kurang dari 0,1% orang di dunia, terutama pria dan orang tua/manula, yang mau pake outfit warna pink dalam sebuah acara formal. Apalagi dalam event pernikahan yang katanya event paling penting bagi sepasang manusia.

Ternyata adikku juga merhatiin hal yang sama. Pada akhirnya kita sepakat, sepertinya semua orang (tidak termasuk undangan ya) terutama panitia dan keluarga besar yang terlibat di pernikahan tadi itu, sudah menjadi korban dari obsesi pengantin perempuan (atau ibunya? ;P ) terhadap warna PINK!

by sissy |posted under disgustedly interesting | Tags: , ,
| 2 Comments »

Sissy, Pasti Membosankan Bagi Perempuan Lain!

November19

Konsep blog inspirazzle adalah sahut menyahut tulisan satu topik yang ditulis berdasarkan sudut pandang yang berbeda. Aku mau juga menjelaskan bahwa Sissy akan sangat membosankan bagi perempuan lain, mungkin poin-poin yang aku utarakan lebih sedikit, karena aku cenderung menerima heterogenitas perilaku manusia.

  1. No branded. Percuma kalau memberikan hadiah barang bermerek ke Sissy. Contoh, percuma memberikan baju hangat dari Mango yang sedang ngetrend. Pasti diterima sih, tapi belum tentu langsung dipakai. Karena Sissy gak suka barang yang membuat sipemakainya menjadi iklan berjalan. Kita menyebutnya, the walking ads
  2. Trends goes bye bye. Pacar kamu mengikuti trend  dari ujung rambut sampe ujung kaki? Mengikuti trend memang gak salah. Tapi bagi Sissy merupakan sebuah perilaku taboo untuk mengikuti trend. Trend bagi Sissy adalah hype sesaat yang akan menguap dengan cepat. Kalau bisa bikin trend sendiri kenapa mengikuti sehingga gaya jadi sama dengan orang lain. 
  3. Fashion couture, No! Harajuku yes!! Most of girls mengikuti gaya trensetter ke barat.  Mungkin itulah kenapa majalah-majalah fashion barat gak ada satupun di tempat Sissy. Tapi kalau sudah melihat baju gaya Jepang, apalagi Lolita stuff, bisa loncat-loncat gak karuan kaya bola bekel. Bagi perempuan yang menganggap gaya Jepang aneh, siap-siap menaikan alis mata kalau ngobrol sama Sissy.
  4. All days girls hangout? Akan dilakukan oleh Sissy, tapi hanya teman terdekat yang akan disetujui oleh Sissy untuk keluar selama seharian. Kalau kamu pernah keluar seharian bareng Sissy, selamat berarti kamu punya tempat khusus di dalam dunianya. Dimana kalau perempuan lain, akan senang keluar dengan teman wanitanya, untuk jalan-jalan di Mall. Sissy akan memilihku untuk menemani dia, gak peduli mau urusan apapun. Membuat cowok selalu merasa dibutuhkan tanpa ada perasaan obsesi, great!!
  5. Cowok ganteng gak cool buat Sissy. Well ada sih cowo ganteng yang ditaksir, yaitu Jude Law. Tapi setahuku cuma cowok ganteng itu doank yang dia sangat sukai. Sisanya sih cowok dengan muka keras dan gak mainstream lah. Saat ini Sissy menyukai Daniel Craig, Cillian Murphy dan tentunya Jonny Depp. Dari ketiga cowo itu, gak masuk kategori ganteng, semuanya sama mempunyai rahang yang kuat dan pipi yang menonjol serta sorotan mata yang kuat. Cewek mainstream akan menjerit-jerit lihat penyanyi ganteng, tapi bagi Sissy, sorotan mata tajam lebih mempesona.
  6. Cemburu, gak ada tuh. Aku dikenal lebih akrab dengan teman-teman perempuan. Tapi Sissy gak pernah merasa risih dengan hal tersebut, karena Sissy sudah tahu kalau aku bilang sudah bilang A gak mungkin melakukan B. Kepercayaan besar datang dengan tanggung jawab yang besar juga, kan? Jadi sangat tidak bijak menghancurkan kepercayaan orang yang kita cintai. Kalau cewek lain lihat cowoknya jalan bareng dengan teman perempuannya, mungkin sudah manyun semeter sampe mulut dan hidung nempel.
  7. Opinion is all that matter. Entah kenapa kalau Sissy berbincang dengan perempuan lain akan sering tidak sependapat. Pendapat Sissy akan selalu berbeda, tapi pendapatnya Sissy lebih masuk akal dibandingkan pendapat orang lain. Kebanyakan pendapat yang berselingsingan adalah mengenai maternalitas, itulah yang membuatku merasa gak perlu khawatir apabila nanti kita berkeluarga. Afterall, logic akan selalu benar karena merupakan hasil dari kerja synaps otak melalui proses pengolahan data dan memori , Perasaan adalah intuisi yang didorong oleh hormon, yang belum tentu benar. Hal ini membuat para perempuan malas berbasa-basi dengan Sissy, karena malas berargumen.
OK, that’s all it. Salah satu plusnya juga Sissy itu gadget freak, mengikuti trend tekhnologi juga. Jadi, aku sendiri gak takut dia bosen kalau sebagian porsi hari dihabiskan untuk membicarakan masalah tekhnologi. Gak tahan sama orang yang gaptek, untuk punya pacar yang mengikuti berita tekhnologi, jadi punya tempat untuk bilang “WOOOW this is so cool, it has new feature!” langsung pada saat itu juga.
OK, enough about us. How about your partner? Does he/she really get along with his/her sex genre friends? Kami di sini ingin tahu, silahkan berbagi ya.
by Kuswanto |posted under Interpersonalisme | | 2 Comments »

Ncus Pasti Membosankan Buat Cowok Lain

November19

Cowok-cowok di studio sedang ketagihan tanding bola di kompi, tapi kapan sih cowo nggak ketagihan bola? Tapi ada 1 orang nih yang adem-ayem ajah, yaitu: Ncus. Dipikir-pikir, Ncus tuh agak androginy deh hobinya. Apakah cowok-cowok lain akan berpikir Ncus itu aneh atau membosankan? ntahlah. Tapi ini nih daftar beberapa sifat Ncus yang agak nggak sesuai dengan cowok mainstream versi majalah Cosmopolitan.

  1. Nggak suka olahraga. Mau sepakbola, tinju, balap mobil, balap motor, you name it! Nggak ada yang bisa bikin Ncus diam didepan TV selama lebih dari 5 menit. Nonton olimpiade aja cuma final bulutangkis pembukaan dan penutupan. Kalo nonton aja ga minat apalagi tanding game?! Aneh ya, kalo dibandingin sama cowo’ mainstream yang kesetanan liat pertandingan olahraga.
  2. Nggak tertarik sama mesin + bengkel. Kalo mesin mobil rusak ya bawa ke bengkel. Di bengkel duduk aja nunggu sambil browsing di iPhone. Selesai, bayar, bawa mobilnya pulang. Rusak lagi? ya siklusnya diulang lagi aja. Sedangkan cowo’ mainstream bakal luangin buanyak waktu buat ngebongkar mesin mobil dan ngegerecokin montir mobil di bengkel.
  3. Anteng-anteng aja kalo ada cewe’ sekseh lewat. Lebih anteng lagi kalo cewe’nya ada di TV. Ntah karena ada aku, ntah karena kebanyakan latihan gambar anatomi tubuh manusia. Sedangkan cowo’ mainstream secara sadar atau nggak matanya akan sedikit membelalak. 
  4. Seneng-seneng aja diajak belanja baju. Hahaha, asik banget dah punya cowok kaya’ begini. Mana bisa diajak diskusi pula mengenai yang akan dibeli. Cowo’ mainstream biasanya milih nunggu diluar toko atau mendadak jadi kambing congek dicocok idung.
  5. Seneng juga diajak ke salon. Potong rambut bareng, ngecat rambut bareng, senangnya :D Kebanyakan cowo’ mainstream pilih potong rambut di barbershop murah dengan alasan nggak pantes cowo’ ke salon. Yang ada juga sekarang ga jaman cowo’ gengsian.
  6. Nggak suka sama gaya yang pasaran. Cowo’ mainstream khan suka banget sama gaya yang mirip-mirip gitu. Kalo Ncus sih harus tampak beda dari orang lain.
  7. Mau minta maaf duluan. Senangnya ada cowo’ yang bisa ngaku salah. Nggak pake muter-muter ke Irian dulu.
  8. Menganggap cewe’ itu nggak perlu dijaga (yang biasanya diartikan sebagai diatur-atur dan dilarang-larang) dan dirawat. Alasannya: udah gede ini, udah bisa ngejaga dan ngerawat diri sendiri. Kalo maunya masih dijaga-jaga dan diurusin mlulu artinya tuh cewe’ manja banget dan bakal nyusahin. Salut boss!!!
  9. Say yes to equal partner. Menurut Ncus hubungan yang seharusnya: Pacar (dan nanti suami-istri) adalah pasangan yang setara hak dan kewajibannya. Asyiiiiikkkk :D
  10. Bisa diajak ngobrol apaaaaaa ajaaaaaa. Mulai dari politik, seni, desain, sampe gosip selebritis jalan terus. Masalah sensitif wanita? oke. Curhat? oke (asal tahan sama kata-katanya yang suka ‘nusuk’ saking jujurnya). Yang gini nih yang bikin nggak butuh temen lain selain pacar.
Last but not least, Ncus baik-baik aja kalo terkadang aku suka lebih mentingin Marco (Anjing chihuahua-ku) daripada dia. Mungkin dia tau ya kalau rasa sayang ama binatang kadang suka kelewatan. Asal nggak all the time aja ;)
by sissy |posted under Interpersonalisme | | 6 Comments »

Angkot…Gimana ya?!

November18

Wah, Ncus sepertinya benci banget ya sama angkot. Memang sih angkot itu (SANGAT) menyebalkan, mengingat kecelakaan mobil kedua aku adalah penyok sebelah body mobil gara-gara kejepit angkot yang berhenti mendadak, lalu angkotnya jalan aja seperti nggak terjadi apapun X( Tapi kalo gada angkot di Bandung, susah juga ya. Mengingat di Bandung khan kondisi jalannya nggak cocok buat Bus (kecil-kecil bow jalannya) taxi-nya juga nggak profesional, kecuali BlueBird tentunya. Jadi, mau nggak mau ya angkot masih jadi andalan…

Tapi, kalau menurut aku, angkot bukan sepenuhnya yang bersalah disini. Orang yang naik angkot dan minta berhenti sembarangan juga sama saja salahnya. Aku punya teman yang berpendapat bahwa Busway di Jakarta itu sangat tidak menyenangkan, karena tidak bisa disuruh berhenti dimana saja dan cuma berhenti di halte. Omigod, artinya secara tidak sadar angkot sudah memfasilitasi (dan melatih) orang-orang supaya bertindak seenaknya dan tidak taat peraturan (*O*)

Sebagai pengguna mobil pribadi ini hal-hal yang bikin angkot HARUS dihapuskan:

  • Suka berhenti di belokan jalan.
  • Lampu-lampu yang tidak menyala seperti seharusnya.
  • Suka berhenti mendadak.
  • Belok kanan dengan sen kiri nyala dan sebaliknya.
  • Terminal bayangan yang asal seenak perut.
  • Seringkali memberi kesan bekerjasama dengan copet atau tukang todong.
  • Setelah dihitung-hitung, ongkos naik angkot seringkali lebih mahal daripada biaya bensin buat mobil, bahkan berkali-lipat lebih mahal daripada biaya bensin buat motor. Jadi tidak ada unsur menguntungkan rakyat kecilnya. 

Sebagai warga Indonesia yang berusaha taat aturan, ini hal-hal yang bikin pengguna angkot HARUS dituntut karena merugikan/mengganggu orang lain:

  • Minta berhenti/naik di sembarang tempat. Seringkali di belokan atau dibawah tanda dilarang stop.
  • Nggak mempersiapkan uang pas buat ongkos, jadinya angkotnya menghambat jalan umum karena menghitung uang kembalian.
  • Merasa segan untuk protes kalau supir angkotnya menyetir ugal-ugalan.

Apakah mungkin angkot tetap ada dan tidak mengganggu siapapun? Tentu saja, ini contohnya:

  • Di Jakarta, mikrolet mulai terasa kurang mengganggu, karena lebih patuh pada tanda-tanda lalulintas. Maklum, polisi Jakarta jauh lebih galak dibandingin polisi Bandung, dan nggak segan-segan nilang pengguna angkot yang naik/turun sembarangan ;D .
  • Pengalaman aku, beberapa supir angkot lebih santai dan taat aturan waktu mengemudikan angkotnya. Misalnya menolak berhenti tepat di belokan atau tidak menyupir zigzag. Sayangnya cuma sedikit sekali jumlahnya. 
Apakah mungkin angkot dihilangkan? Tentu saja (lagi). Seperti sudah Ncus tulis, di Bali hampir tidak ada angkot. Masyarakat mendapatkan pemecahannya dengan memiliki motor. Bahkan akhirnya saking banyaknya yang punya motor, angkot jadi nggak laku. Dan bagi yang sudah pernah ke Bali, pasti merasakan khan gimana asyiknya suasana jalan raya di Bali. Kesimpulanku, perilaku angkot nggak akan berubah selama perilaku pengguna angkot masih sama aja seenaknya. Jadi sebaiknya para pengguna angkot duluan lah yang harus merubah perilaku ber-angkot mereka, sadar diri aja kalau perilaku mereka itu seringkali ,secara langsung maupun tidak, merugikan orang lain. Pada dasarnya penjual (supir angkot) pasti akan menyesuaikan dengan pembeli (pengguna angkot). Iya khan?!
by sissy |posted under Daily Madness | Tags: , ,
| No Comments »

Angkot, live with it or without it?

November14

Belakangan ini sering berfikir kalau Angkot (Angkutan Kota) sebagai sebuah angkutan masyarakat menengah–bawah sudah menjadi duri di dalam daging bagi Indonesia. Semakin besar kotanya semakin parah juga kemumetan angkot.

Apakah hidup kita akan lebih enak kalau tidak ada angkot? Atau kita akan lebih menderita??

Masalah angkot

  • Tidak adanya fasilitas untuk angkot di jalan raya
  • Supir tidak disiplin
  • Standarisasi perangkat didalam angkot
  • Trayek yang tidak efisien
  • Distribusi tidak merata
  • Tarif tidak sesuai dengan yang seharusnya
  • Jumlah armada terlalu banyak dan tidak merata

Angkot dari mata ke mata

Angkot dimataku hanya sebuah truk pickup yang diberi tudung aling-aling supaya tidak kepanasan dan kehujanan, tapi toh ketika hujan air tetap masuk, dan ketika panas keringat berucucuran tak terbendung. Angkot secara fisik merupakan sebuah kendaraan beroda empat keluaran tahun 80 s.d 90-an. Yang artinya, sangat tidak eco friendly.

Angkot di mata sang supir, kebanyakan adalah warga pendatang di kota angkot tersebut bertrayek. Mereka mengadu nasib menjadi supir angkot, demi hidup. Karena mengadu nasib, alhasil cara menyupirnya juga mirip adu sapi, siapa cepat dia yang menang, gak peduli sama saingan atau penonton yang dipinggir, yang penting dia menang. Ada juga supir angkot yang seperti layaknya petani yang menggembala sapi, dengan santai membawa mobilnya tanpa ada kebut yang menggebu. Yang penting bagi dia, sapi beliau sampai ke tempat dengan selamat dan bahagia.

Angkot bagi sang tuan tanah (pemerintah), merupakan sebuah lahan basah. Trayek angkot adalah sebuah lahan pajak yang besar. Belum lagi pajak tahunan. Hmm… yang bersih dan yang gak bersih masuk ke kantong siapa bapak siapa kita gak tahu, tapi sudah pasti ini lahan basah. Kenapa DLLAJ tidak memperbaiki sistem angkot atau memperketat peraturan angkot? Mungkin, merasa belum perlu dan tidak melihat masalah di angkot. Kalau iya, sangat disayangkan.

Angkot bagi pencopet. Wah kalo ini saya sudah mengalami. Telpon genggam pertama kali raib di angkot di comot oleh om copet ketika dalam perjalanan ke kantor. Angkot merupakan sebuah tempat beroperasi bagi para copet, terutama untuk trayek yang melalui daerah sepi.

Angkot di mata para pengemudi motor. **jing!! belok belok gak make lampu sen!

Angkot di mata pengemudi mobil pribadi. Aduh!! lampu remnya mati!

Apakah kita butuh angkot?

Jawabanku tidak!! Masih banyak angkutan lain yang lebih layak. Sebagai contoh di Bali. Tidak ada angkot, masyarakatnya bisa bepergian dengan sepeda motor kemana saja. Mungkin akan meningkatkan jumlah sepeda motor secara signifikan, tapi jalan akan lebih rapih apabila tidak ada angkot.

Negara-negara yang sudah maju dari dulu tidak pernah ada angkot. Mereka menggunakan angkutan massa yang dapat menampung lebih banyak orang daripada angkot, seperti bis dan kereta api. Jakarta dan Yogyakarta sudah mulai menggunakan Busway, merupakan sebuah langkah maju. Tapi bagaimana dengan kota-kota besar lain?

Secara garis besar! Angkot adalah sebuah angkutan massa yang tidak ramah lingkungan, stressor, tidak aman, dan tidak efektiv. Apakah kita masih butuh Angkot? Pikir lagi?

by Kuswanto |posted under Daily Madness | Tags: , ,
| 3 Comments »

Pertanyaan Standard yang tak terelakan

November9

Seperti yang sudah dituliskan oleh Sissy. Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan terus berputar-putar selama kita masih punya nyawa. Tips yang dituliskan juga sudah kita praktekan, dan pertanyaanpun berkurang. Sepertinya yang bertanya juga sebal, tiap kali ditanya diminta sumbangan.

Kenapa orang sangat ingin tahu mengenai milestone hidup orang lain? Well, orang itu cenderung sok tahu secara gak sadar. Coba, berapa dari sanak sodara yang setelah menanyakan “Kapan merit?” dan terus nyeroscos bagaimana dia merit atau anaknya merit pada umur sekian..bla bla bla.

Sebagai generasi millenium yang sudah kenyang dengan informasi yang didapat dari luar. Kita cenderung lebih pintar mengenai kapan punya pacar, kapan merit, kapan punya anak. Kalau kalian melek informasi tentunya info-info tersebut bisa dengan gampang kita dapatkan dari media analog/digital. Nah, karena itulah kita juga merasa sok pintar, gak perlu lagi denger cerita atau petuah dari generasi tua yang ketinggalan zaman.

Gimana caranya supaya kita juga tidak dipandang sok pintar. Pandai-pandailah memilih mana orang yang kita jawab dengan benar, mana orang yang akan kita tanya balik dan minta sumbangan. Menentukannya terserah sih, tapi semakin dekat orang yang nanya tentunya jawaban yang diberikan juga mendekati kebenaran.

Ada yang punya tips khusus gak, mengenai pertanyaan “yang menyebalkan” itu? Bagi-bagi donks sama kita.

by Kuswanto |posted under Daily Madness | | 5 Comments »

How to deal with “Pertanyaan Standar”

November9

Aku yakin, semua orang (selama masih orang Indonesia) pasti pernah mendapat pertanyaan standar ini. Apalagi kalau: Usia sudah pertengahan 20-an, sudah punya pacar tetap, mendekati wisuda S1 dan atau sudah punya pendapatan sendiri. Pertanyaan standarnya adalah “Kapan nyusul?”, “Kapan nih undangannya?” atau “Kapan makan-makannya?”. Buat yang nggak ngerti, semua pertanyaan itu intinya sih satu aja: “When will you get married?”. Kalau yang nanya cuma 1-2 orang sih ya no problemo ya…Tapi ini…Sepertinya semua orang nggak punya pertanyaan lain. Mau di pertemuan nyata, via telpon, di internet…. X( aaahhh!!! Annoying banget khan?!.

 Aku dan Ncus juga pernah mengalami moment-moment (amat sangat) menyebalkan ini. Setelah melalui saat-saat bete, manyun-manyun sebel sampe ketawa-ketiwi tragis, akhirnya kita mendapatkan beberapa cara ampuh untuk membungkam orang-orang kurang pertanyaan ini. Ini beberapa diantaranya:

  1. Ajukan calon lain yang lebih kompeten. Misalnya orang lain yang lebih tua, pendapatannya lebih besar atau sudah pacaran serius lebih lama daripada kita. Begitu pertanyaan standar itu muncul, jawab aja (cuma contoh nih) “Ah, si itu juga belom mau bagi-bagi undangan tuh. Padahal khan dia lebih tua dari Aku”.
  2. Ajukan calon target yang superduper nggak kompeten. Misalnya orang lain yang i-pe kuliahnya nasakom (alias lulusnya masih lama), sudah bertahun-tahun nggak punya pacar, atau berbagai sebab lain yang membuat tampaknya dia nggak akan menikah dalam waktu dekat. Tipe jawabannya gini nih “Aku nggak akan merit sebelum si itu merit ah, biar kompak aja.”
  3. Belagak nggak tau. Kalau ada yang nanya ‘undangan’ atau ‘makan-makan’ nya, langsung aja jawab dengan tanggal ultahmu. Misalnya: “Iya, ntar undangannya Januari. Khan aku ulangtahun tuh, tenang aja…pasti aku undang kok” sambil langsung tinggalin biar nggak perlu mendengar penjelasan panjang lebar mengenai ‘undangan’ atau ‘makan-makan’ yang dimaksud.
  4. Yang satu ini paling paten nih: Minta sumbangan. Sebarluaskan aja ke beberapa teman/sodara yang bisa diajak kompakan, bahwa kita akan minta sumbangan untuk setiap pertanyaan. Seperti jawaban standar aku dan Ncus kalau ada yang menanyakan pertanyaan standar “biaya nanya 100ribu rupiah, ada ide buat pestanya 500ribu rupiah, maksa idenya dilaksanain biayain!”. Kalau perlu, supaya lebih meyakinkan, bawa-bawa terus kuitansi. Jadi kalau ada yang nanya langsung deh kasih kuitansinya, untuk meyakinkan bahwa kita nggak cuma ngomong doank. Cara ini terbukti ampuh sama keluarga besar Aku dan Ncus lho!

Sebenarnya masih ada banyak cara untuk menangkis pertanyaan standar itu. Tentu saja disesuaikan dengan tingkat kreativitas, situasi dan kondisi siapa yang nanya dan siapa yang ditanya. The real tip is this: Always get ready with the answer :) Good Luck.

by sissy |posted under Daily Madness | Tags:
| 3 Comments »
« Older Entries